Ada yang tahu tidak, siapa
pengembang teknologi 4G? Tentu, banyak dari kita yang menjawab Jepang adalah
pengembangnya. Hal itu memang ada benarnya, tetapi tunggu dulu...Siapa sutradara
dibalik semua ini? Ternyata orang Indonesia! Khoirul Anwar namanya. Dia adalah
seorang asisten professor di JAIST (Japan Advance Institute of Science and
Technology), Jepang. Kini hasil temuannya yang telah dipatenkan itu, telah
digunakan oleh berbagai perusahaan besar dunia, seperti Huawei Technology.
Teknologi ini juga digunakan sebagai standar internasional untuk keperluan
satelit.
Bagaimana kisah hidupnya?
Kesuksesan besar pasti diawali
dengan keprihatinan. Dia adalah pria kelahiran 22 Agustus 1978 di sebuah pelosok
desa di Kunjeng, Kediri, Jawa Timur. Sejak SD, dia sudah membantu bapak ibunya
ngarit di sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Khoirul Anwar berbeda dari
umumnya, sembari ngarit dia menyempatkan diri untuk membaca buku tentang sains.
Kecintaannya dengan sains membuat dirinya memiliki impian yang tinggi. Dia
bercita-cita agar dapat menemukan teori baru seperti Einstein dan Faraday
walaupun saat itu masih SD. Sayangnya, mimpi itu hampir sirna ketika ayahnya
meninggalkan dirnya untuk selamanya di saat kelulusan SD. Dia khawatir jika
ibunya tidak mampu membiayainya sekolah.
Namun, berkat kerja keras dan tekad yang kuat,
setelah tamat SMP dia berhasil masuk ke salah satu SMA favorit di Kediri dan mampu menembus STEI ITB pada tahun 1996.
Dia lulus sebagai salah satu wisudawan terbaik pada tahun 2000 dan mendapat
beasiswa dari Panasonic untuk studi ke Jepang. Sayangnya, orang sukses tidak
selamanya sukses terus, pasti juga ada ganjalannya, di Jepang dia terlempar dari
pilihan pertamanya, Universitas Tokyo (Universitas terbaik di Jepang) menuju
Nara Institute of Science and Technology. Di sana, dia melanjutkan hingga
doktoral dan meneliti transmitter bernama 4G.
Bagaimana cara dia menemukan teknologi 4G?
Kisah ini berawal dari kejengkelannya
dengan masalah power pada wiFI dan kesukaannya menonton kartun Dragon Ball Z,
ketika Goku melayangkan jurus Genkidama, bola-bolanya saat bertarung melawan
Piccholo. Dia membayangkan jika genkidama Goku sebagai Turbo Equalizer yang
mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang terdelay dan
terdahulu untuk melenyapkan distorsi data akibat adanya interferensi gelombang.
Gagasan ini dikerjakan Khoirul dengan
sedikit bantuan dari Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat
Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki
Mobile Wireless Center. Setelah menurunkan formula matematikanya secara
konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya. Metode
ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa
diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA
(3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi
dengan tingkat kompleksitas rendah.
Apa tanggapan masyarakat dengan adanya teknologi 4G?
Awalnya masyarakat memandang remeh
karena awal penemuannya banyak terdapat kesalahan. Dia menggunakan algoritma
Fast Fourier Transform (FFT). Sebuah FFT dipasangkan dengan FFT aslinya menurutnya
bisa menstabilkan power, tetapi yang terjadi justru saling menghilangkan. Ide
itu sempat dianggap gila oleh para ahli saat dia melakukan presentasi di
Hokkaido pada 2005, tetapi berkat usaha kerasnya, ide itu mampu ia kembangkan
menjadi teknologi 4G seperti yang kita lihat sekarang ini. Dan bagi yang belum
tahu, tentu mengira jika teknologi ini adalah buatan Jepang.
Apa saran Khoirul Anwar untuk Indonesia?
Sukses di negeri orang tak
membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. “Suatu saat saya juga akan tetap pulang
ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri,” katanya. Seperti
yang dilansir dari JPNN, yang membuat Khoirul Anwar salut, orang Jepang begitu
bangga menggunakan produk sendiri meski jelek. Karena itu, ilmuwan Indonesia
sebaiknya meniru Jepang. ”Saya inginnya insinyur kita, jelek-jelek nggak
apa-apa, asal punya kita. Sedikit demi sedikit bisa diperbaiki,” tuturnya. Yang
penting, prosesnya jalan terlebih dulu. Apabila sudah benar, tinggal dipikirkan
cara menyempurnakannya.”Kalau kita mau langsung bikin yang hebat, tidak
akanada. Orang pasti bermula dari tidak hebat. Yang mudah dulu,” tegasnya. Dia
yakin ilmuwan Indonesia tidak hanya genius, namun juga kreatif dan mampu
mencari terobosan.
Khusus penerapan teknologi 4G di
Indonesia, bagi Anwar tidak ada kata terlambat. Peluangnya sangat besar dan
bermanfaat bagi masyarakat. Pemerintah dan operator seluler harus siap. Sebagai
contoh, Indonesia bisa menerapkan e-health dengan menggunakan teknologi 4G. ”Pasien
di ambulans selama perjalanan bisa dipandu dokter yang ada di rumah sakit,”
tutupnya.
Bagaimana kita bisa menggunakan paper penelitiannya sebagai bahan
referensi?
Jika ingin mencari papernya di internet untuk bahan
referensi karya tulis atau penasaran akan prosedur penelitiannya, papernya berjudul
“A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without
Guard Interval.”


ConversionConversion EmoticonEmoticon